Posted by : BISNIS ONLINE Senin, 14 Oktober 2013

1. Hanako-san Hanako-san (花子さん?) atau Hanako-san di Toilet (トイレの花子さん Toire no Hanako-san?) adalah legenda urban Jepang tentang sesosok gadis yang menghantui kamar mandi sekolah. Dia akan muncul bila namanya dipanggil. egenda Hanako-san adalah legenda urban yang terkenal dan tersebar secara luas sehingga memiliki beragam versi. Pemanggilan Hanako-san serngkali dilakukan oleh anak-anak di sekolah sebagai ritual pembuktian keberanian, atau sebagai metode perpeloncoan murid baru, seperti legenda Bloody Mary di sekolah-sekolah Barat. Hanako-san dipanggil dengan mengetuk pintu bilik ketiga kamar mandi perempuan di lantai tiga sebanyak tiga kali sambil bertanya 'Apakah kamu di sini, Hanako-san", dan suara misterius akan menjawab "Aku di sini". Di dalam bilik akan hadir sesosok gadis dengan rok merah. Kadangkala ia tampak dengan pakaian putih. 'Hanako' merupakan nama perempuan yang umum di Jepang pada tahun 1950-an, ketika legenda tersebut [diyakini] dimulai pada saat itu.

 2. Jubah Merah ubah Merah (赤マント Aka manto?) adalah legenda urban Jepang tentang hantu yang bergentayangan di sekitar toilet umum dan sekolah, yang senantiasa menawarkan kertas merah dan biru pada korbannya. Dalam versi lain dinyatakan bahwa ia akan bertanya kepada korbannya tentang jubah merah atau biru. Seringkali diceritakan bahwa pada saat masih hidup ia merupakan pria tampan dan selalu dibuntuti oleh para pengagumnya, sehingga ia menggunakan topeng untuk menutupi wajahnya. Legenda Saat korban berada di toilet (biasanya bilik terakhir), suara misterius akan terdengar: "Mau kertas merah atau biru?" Jika korban menjawab kertas merah, maka lehernya akan digorok sehingga pakaiannya menjadi merah karena bersimbah darah. Jika memilih kertas biru, maka leher korban akan dicekik sampai wajahnya membiru. Mengelabui Jubah Merah dengan menjawab warna selain yang ditawarkan akan mengakibatkan diseretnya korban ke dunia lain. Jawaban yang tepat adalah 'Tidak perlu kertas'.[1] Versi lain Kadangkala sosok Jubah Merah disamakan dengan Jubah Biru (青いマント Aoi Manto?). Kadangkala suara misterius tidak menawarkan kertas, melainkan jubah. Jika memilih merah, maka korban akan dikuliti agar kulit tersebut menyerupai jubah. Jika menjawab biru, maka darah korban akan dikuras habis. Dalam suatu versi berbeda yang terkenal, pilihan yang ditawarkan bukan kertas merah melainkan rompi merah: Seorang polisi dan polwan dipanggil ke sekolah setelah mendapat laporan adanya suara lelaki misterius di kamar mandi perempuan. Sang polwan pergi ke kamar mandi sementara rekannya menunggu di luar. Saat berada di dalam bilik, suara misterius bertanya, "Mau pakai rompi merah?" Polisi yang berada di luar, yang menguping dari balik pintu mendengar rekannya menjawab "Ya". Tiba-tiba terdengar jeritan dari dalam kamar mandi yang diiringi suara benda jatuh. Setelah polisi di luar berhasil mendobrak pintu kamar mandi, ia mendapati bahwa rekannya telah dipenggal. Darahnya meresapi rompi yang dikenakannya, sehingga rompinya menjadi merah. Versi lain menyatakan bahwa bila memilih jubah kuning, maka kepala korban akan dipaksa masuk ke toilet yang sedang digunakan.

 3. Mary-san Mary-san (メリーさん Merī-san?) adalah hantu penasaran dalam legenda urban Jepang. Kisah Mary-san juga dikenal sebagai "Telepon dari Mary-san" (メリーさんの電話 Merī-san no denwa?), menceritakan gadis yang merasa dihantui setelah mendapat panggilan telepon misterius dari sesuatu yang mengaku sebagai boneka kesayangannya. Cerita ini mengandung tema yang umum dalam cerita rakyat dan legenda urban Jepang, yakni dendam barang kesayangan yang terabaikan dan ketakutan karena merasa dikuntit dari belakang. Legenda Seorang gadis memiliki boneka buatan luar negeri yang diberi nama Mary. Boneka tersebut menjadi boneka kesayangannya. Ketika ia harus meninggalkan rumah lamanya untuk pindah ke rumah baru, ia memutuskan untuk meninggalkan boneka Mary-nya di rumah lama karena sudah usang. Pada suatu malam, setelah kerasan di rumah barunya, ia mendapatkan panggilan telepon misterius dari seseorang yang mengaku sebagai boneka kesayangannya, Mary: "Aku Mary. Kini aku berada di tempat sampah." Bahkan setelah ia mematikan telepon, panggilan misterius berikutnya tetap masuk, dan berbunyi, "Aku Mary. Kini aku berada di dekat warung rokok." Panggilan berikutnya berbunyi, "Aku Mary. Kini aku berada di depan rumahmu." Dengan perasaan takut bercampur penasaran, si gadis segera membuka pintu depan rumahnya, tetapi ia tidak melihat seorang pun di depan rumahnya. Si gadis kembali menutup pintu, dan tak lama kemudian panggilan telepon misterius kembali terdengar: "Aku Mary. Kini aku berada tepat di belakangmu." Dalam budaya populer Kisah Mary-san menjadi inspirasi dalam film, manga, anime, dan novel horor, dengan modifikasi cerita dan versi yang berbeda-beda. Film "Ghost Schools" (学校の怪談 Gakkō no kaidan?) (1995). "Mary-san no Denwa" (メリーさんの電話?) (2011), disutradarai Mitsuhiro Mihara, dibintangi Ayaka Kikuchi (AKB48). Manga Dalam Nube: Guru Ahli Roh volume 27, Mary memiliki boneka tak bertangan dan berkaki. Ia mencopot anggota badan murid yang malang untuk menyempurnakan bonekanya. Novel Dalam Maniacs Ayakashi! (あやかしマニアックス! Ayakashi maniakusu!?), Mary muncul sebagai teman sekelas si tokoh utama. Anime Dalam Ghost at School episode 11, "The Talking Mary Doll! Shadow of Death" (話すメリー人形 恐怖の影 Hanasu merī ningyō kyōfu no kage?) (pengisi suara: Etsuko Kozakura), Mary adalah hantu berwujud boneka yang menguntit anak lelaki untuk diajak bermain.

4. Kertas Merah, Kertas Biru Kertas Merah, Kertas Biru (赤い紙、青い紙 Akai Kami, Aoi Kami?) adalah salah satu legenda urban di Jepang yang bertemakan cerita seram di sekolah. Meski bermula dari legenda urban Jepang, cerita ini juga populer di Korea Selatan seperti halnya cerita Kuchisake-onna Plot Cerita ini bervariasi menurut periode dan daerahnya, tapi secara garis besar memiliki sejumlah kesamaan. Peristiwanya terjadi pada malam hari di toilet. Seorang murid laki-laki pergi ke toilet untuk buang air besar. Setelah selesai, kertas toilet ternyata tidak ada. Tiba-tiba entah dari mana, terdengar suara, "Kau, mau kertas merah? atau kertas biru?" "Kertas merah," jawab murid itu. Dalam sekejap, darah muncrat dari tubuh murid itu. Ia meninggal dunia di tempat. Murid lain yang pernah mendengar cerita itu, meski ketakutan pergi juga ke toilet karena sudah tidak tahan. Peristiwa yang sama menimpanya. Di dalam toilet ternyata tidak ada kertas. Ia lalu mendapat pertanyaan yang sama, "Kau mau kertas merah? atau kertas biru?" Murid itu teringat dengan cerita darah muncrat dari tubuh seorang siswa karena menjawab kertas merah. Dengan tenang, ia menjawab, "Kertas biru." Setelah menjawab, darah mengalir keluar dari tubuh murid itu. Ia meninggal dunia dengan tubuh berwarna biru. Asal usul Cerita ini lebih tua daripada cerita Hanako-san di Toilet, telah meluas di kalangan murid sekolah dasar di Kota Nara sejak tahun 1930-an. Menurut cerita dari mulut ke mulut, di toilet sekolah itu terdengar suara misterius "Mau diberi kertas merah, mau diberi kertas putih?" (赤い紙やろか、白い紙やろか?, Akai kami yaro ka, shiroi kami yaro ka). Bila dilacak sumber cerita-cerita tersebut, ketakutan tidak dapat menjawab soal yang diajukan pada ulangan di sekolah merupakan penyebabnya. Menurut desas-desus di sekolah tersebut, "Nasib akhir yang menakutkan akan terjadi bergantung jawaban yang diberikan" atau "tragedi terjadi bila tidak dapat menjawab dengan benar". Di Kyoto terdapat kepercayaan lokal tentang yōkai bernama Kainade (Kainaze). Ia konon muncul malam hari pada hari setsubun untuk mengelus pantat orang yang pergi ke toilet. Namun menurut folklor, peristiwa itu dapat dicegah bila orang yang sedang berada di toilet mengucapkan mantra "Mau diberi kertas merah, mau diberi kertas putih?" (赤い紙やろか、白い紙やろか Akai kami yaro ka, shiroi kami yaro ka?). Kepercayaan ini disebut sebagai asal usul legenda urban Kertas Merah, Kertas Biru. Cerita sempalan Dari cerita Kertas Merah, Kertas Biru berkembang cerita-cerita sempalan, tidak hanya menyebut kertas merah/kertas biru, melainkan kertas merah/kertas putih, "Mantel Merah, Mantel Biru", "Tangah Merah, Tangan Biru","Lidah Merah, Lidah Biru",tapi akhir cerita tidak banyak berbeda. Dari legenda urban Jubah Merah asal awal zaman Showa (monster bermantel merah penculik anak-anak) lahir legenda urban Jubah Merah, Jubah Biru. Jawaban "kertas merah" akan berakhir dengan "siraman hujan darah dari langit-langit" atau "korban disabet dengan arit hingga berlumuran darah". Jawaban "kertas biru" akan berakhir dengan "cekikan di leher hingga tubuh membiru semua" atau variasinya, "kertas akan diulur keluar dari dalam kloset toilet". Pada cerita lain, jawaban "Mau kertas biru" akan dibalas dengan "Kertas biru tidak ada," dan begitu pula sebaliknya. Bila korban mencoba melarikan diri, pintu toilet tidak bisa dibuka. Menurut legenda urban, meski selalu ditambah, kertas toilet selalu habis di tempat terjadinya peristiwa aneh ini. Sebuah sekolah dasar di Kodaira, Tokyo memiliki legenda urban tentang jatuhnya kertas merah atau kertas biru dari atas. Bila kertas merah yang digunakan, maka tubuh pemakainya menjadi merah, dan sebaliknya. Cerita lainnya secara jelas menunjuk lokasi toilet tempat terjadinya peristiwa aneh. Di sebuah sekolah dasar di Tokyo terdapat toilet jongkok yang jarang digunakan di sebelah aula olahraga sekolah. Keanehan terjadi di bilik toilet nomor empat. Sebuah sekolah dasar di Distrik Senboku di Prefektur Osaka memiliki legenda urban Kertas Merah Kertas Putih. Jawaban "kertas merah" akan mendapat cucuran darah dari langit-langit, sementara jawaban "kertas putih" menyebabkan tangan berwarna putih menjulur keluar dari bawah. Pola warna legenda urban di sekolah dasar Kota Osaka adalah merah dan putih.Lidah keluar dari kloset toilet untuk menjilat murid yang menjawab "merah". Bila jawabannya adalah "putih", sebuah tangan akan mengelus murid tersebut. Sebuah sekolah dasar di Higashikurume, Tokyo memiliki legenda urban yang bertanya "Kamu senang mana, merah atau ungu (赤と紫どちらが好きか Aka to murasaki dochira ga suki ka"?). Murid akan selamat bila menjawab "ungu", dan menurut cerita, orang itu akan diseret masuk ke dalam kloset toilet bila menjawab "merah". Cerita-cerita lain menyebut calon korban akan selamat bila menjawab dengan warna berbeda, misalnya: "kertas kuning". Namun ada pula cerita yang memberi peringatan untuk tidak memberi jawaban selain kertas merah atau biru. Jawaban warna lain akan menyebabkan orang itu dibawa ke alam lain. Di sebuah sekolah dasar di Prefektur Yamagata, pertanyaan berubah menjadi "Mau kertas biru, kertas merah, atau kertas kuning?" Murid itu menjawab, "kertas biru". Kertas toilet berwarna biru yang diterimanya ternyata masih kurang. Murid itu lalu diberi kertas kuning dan kertas merah, sebelum akhirnya murid itu lenyap. Bila menjawab "kertas kuning," maka murid itu akan jatuh sakit hingga seluruh tubuhnya berwarna kuning, atau mendapat siraman tinja menurut cerita yang lain. Dalam cerita-cerita seperti ini, jawaban terbaik biasanya "kertas putih", "tidak perlu",atau sama sekali tidak menjawab. Pada pola-pola legenda urban lain, bukan hanya suara yang terdengar. Seorang laki-laki bertubuh tinggi dengan wajah berwarna biru akan muncul mengajukan pertanyaan. Di Komoro, Prefektur Nagano, ada cerita tentang orang yang sakit mendadak dan meninggal dunia setelah menceritakan kembali legenda urban ini.

5. Kuchisake-onna Kuchisake-onna (口裂け女?, wanita bermulut robek) adalah sejenis siluman dalam mitologi dan legenda urban Jepang. Ia berwujud seorang wanita yang bermulut robek. Dalam legenda urban Jepang, ia menutupi mulutnya dengan masker operasi dan sering muncul di jalan-jalan yang sepi. Ia bertanya pada orang yang ditemui apakah dirinya cantik. Bila orang itu menjawab tidak atau ketakutan melihat wujud seramnya maka ia akan membunuh orang itu. Bahkan pada akhir 1970-an, beberapa sekolah menyarankan agar murid-muridnya pulang secara berkelompok atau ditemani guru agar selamat. Legenda kuno Dalam legenda, Kuchisake-onna tadinya adalah seorang wanita muda yang hidup pada zaman Heian. Kemungkinan ia adalah seorang istri atau selir samurai. Ia dikaruniai wajah yang sangat cantik namun sombong, ia juga sering berselingkuh di belakang suaminya. Suaminya merasa sangat cemburu dan dikhianati menyerangnya dan membelah mulutnya dari kuping ke kuping. “Sekarang siapa yang akan berkata kau cantik?” ejek suaminya. Legenda urban Dalam versi legenda urban, Kuchisake-onna adalah seorang wanita korban operasi wajah yang gagal. Konon dokter yang mengoperasi wajahnya memakai pomade (jenis minyak rambut) dengan bau yang menusuk. Ketika sedang dioperasi ia tidak bisa tenang karena bau itu sehingga si dokter secara tidak sengaja memotong mulutnya hingga robek. Wanita itu menjadi histeris dan marah lalu membunuh dokter itu. Belakangan ia dibunuh oleh para penduduk kota dan menjadi hantu penasaran. Ada beberapa versi lain mengenai asal-usulnya namun kurang populer, misalnya: Korban kecelakaan lalu-lintas yang wajahnya rusak. Seorang wanita yang mengalami gangguan kejiwaan sehingga merobek mulutnya dengan benda tajam. Seorang wanita korban pemerkosaan yang mulutnya dirobek oleh si pemerkosanya atau ia sendiri yang melakukannya setelah menjadi gila karena perkosaan itu. Seorang wanita yang leluhurnya memperoleh uang haram dengan menyembah siluman anjing sehingga anak cucunya dikutuk bermulut robek dan bila mati akan menjadi siluman. Kuchisake-onna menutupi mulutnya yang robek dengan masker operasi dan sering bergentayangan di kota pada waktu malam, terutama ketika sedang berkabut. Bila bertemu seseorang (terutama anak-anak atau mahasiswa) di jalan yang sepi, ia akan bertanya, "Apakah saya cantik?" (Watashi kirei?). Bila menjawab "ya", ia akan membuka maskernya dan bertanya lagi, "Bahkan bila seperti ini?" Pada saat itu, bila si korban menjawab tidak, maka ia akan dibunuh dengan gunting, golok, sabit, atau senjata tajam lainnya. Bila si korban tetap menjawab ya, Kuchisake-onna akan gembira dan membebaskannya, namun ada juga yang mengatakan bahwa walaupun korban melakukan itu, Kuchisake-onna akan mengikuti korbannya sampai ke rumah dan membunuh korbannya di depan pintu rumah si korban. Bila korbannya wanita, Kuchisake-onna akan merobek mulut korbannya hingga serupa dengannya. Bila korbannya anak-anak, ia akan memakannya. Legenda urban yang populer pada tahun 1970-an mengatakan bahwa korban akan selamat bila ia menjawab "biasa saja". Sementara versi tahun 2000-an mengatakan bahwa korban akan selamat bila menjawab, "lumayan" sehingga Kuchisake-onna bingung dan berpikir dulu apa yang akan ia lakukan, saat sedang bingung itulah korban mempunyai kesempatan untuk kabur. Versi lain manyatakan bahwa korban dapat balik bertanya kepada Kuchisake-onna 'apakah saya juga cantik' sehingga Kuchisake-onna akan bingung lalu pergi. Cara lain untuk lolos dari Kuchisake-onna adalah dengan menawarkannya permen keras berwarna kuning tua karena ia menyukainya namun tidak bisa menikmatinya sehingga mengingatkannya lagi pada penderitaannya. Selain itu bisa juga dengan mengucapkan "pomade" sebanyak tiga kali, ada yang menyebutkan enam kali. Ucapan itu akan membuatnya takut dan kabur karena mengingatkannya kembali pada ahli bedah yang merusak wajahnya. Korban juga bisa memakai pomade untuk mencegahnya mengikutinya.

 6. Sacchan "Sacchan (サッちゃん?)" adalah lagu anak-anak dari Jepang yang digubah pada tahun 1959 dan terkenal di negara tersebut. Liriknya ditulis oleh Hiroo Sakata (阪田寛夫 Sakata Hiroo?) dan musiknya digubah oleh Megumi Ōnaka (大中恩 Ōnaka Megumi?). Nama "Sacchan" adalah bentuk diminutif dari nama "Sachiko" dan biasanya dipakai sebagai nama panggilan gadis kecil. Bentuk diminutif seperti itu dapat (tapi tidak selalu) memberikan kesan keimutan, sehingga "Sacchan" bukanlah sekadar nama seperti "Jessica", tapi cenderung merupakan panggilan keakraban seperti "Cika" (bisa merupakan bentuk diminutif dari Jessica atau Sisca). Latar belakang Menurut penulis liriknya, Hiroo Sakata, lagu itu mengenai masa kecilnya, tentang gadis tetangganya yang dipanggil "Sacchan". Sachiko Kikuta (菊田幸子 Kikuta Sachiko?) adalah teman sekelas Sakata di Taman Kanak-kanak Osaka Selatan (南大阪幼稚園 Minami-Ōsaka Yōchien?); namun akhirnya ia pindah (disebutkan dalam lagu dengan kalimat "...pergi jauh" pada bait ketiga). Menurut Megumi Ōnaka, Kikuta adalah gadis yang disukai Sakata untuk pertama kalinya. Penyebutan pisang pada bait kedua terkait dengan kondisi kesehatan yang pernah dialami Sakata. Saat kecil, tubuh Sakata lemah; ketika ia mencoba memakan pisang lebih dari setengah, ia akan merasa mual dan tidak mampu menghabiskannya. Sebagai catatan, penulis lagu dan penggubahnya merupakan saudara sepupu. Budaya populer Karena popularitas lagu anak-anak tersebut, beberapa legenda urban dan lelucon yang terkait dengannya muncul di Jepang. Dalam salah satu versi, bait tambahan keempat menyinggung bahwa Sacchan merupakan hantu tanpa kaki. Dalam versi lainnya, bait-bait tambahan hingga bait kesepuluh telah digubah. Pada musim gugur tahun 2006, batu peringatan yang ditulisi lirik lagu anak-anak tersebut didedikasikan di Taman Kanak-kanak Osaka Selatan.

7. Satoru-kun Satoru-kun (さとるくん?) adalah sosok misterius dalam legenda urban Jepang. Ia dipercaya sebagai sosok (seperti Bloody Mary) yang mengetahui masa lalu, sekarang, dan masa depan. Legenda Satoru-kun dipanggil dengan cara menghubungi nomor telepon genggam sendiri melalui telepon umum. Saat terhubung, penelepon diminta untuk memohon sebagai berikut: "Satoru-kun, Satoru-kun, datanglah kemari. Satoru-kun, Satoru-kun, tunjukanlah dirimu. Satoru-kun, Satoru-kun, jawablah bila kau ada di sana." Setelah itu telepon ditutup. Dalam 24 jam, Satoru-kun akan menghubungi nomor telepon genggam dari orang yang telah memanggilnya (meneleponnya). Bahkan meskipun telepon dimatikan, panggilan akan tetap diterima. Satoru-kun akan berkata bahwa ia sedang menuju ke tempat si penelepon, sampai akhirnya ia berkata bahwa ia sudah berada tepat di belakang si penelepon. Orang yang sudah memanggilnya harus segera mengutarakan apa pertanyaan yang ingin diajukannya kepada Satoru-kun, dengan syarat tidak boleh memandang Satoru-kun. Bila dilanggar, maka Satoru-kun akan menyeret orang tersebut ke neraka.

 8. Teke Teke Teke Teke (テケテケ?) adalah legenda urban Jepang mengenai wanita muda (atau gadis sekolah) yang jatuh di atas rel dan tubuhnya terpotong jadi dua karena ditabrak kereta api yang melintas. Setelah menjadi hantu penasaran, ia membawa sebilah sabit atau gergaji dan berjalan dengan memakai tangan atau sikunya, dan gerakan tubuhnya saat diseret berbunyi "teke teke". Jika Teke Teke menjumpai seseorang di malam hari dan orang itu tidak cukup cepat untuk berhasil kabur, maka Teke Teke akan memotongnya menjadi dua bagian seperti keadaan tubuh Teke Teke itu sendiri. Legenda Di suatu malam, saat seorang siswa dalam perjalanan pulang dari sekolah, ia melihat sesosok gadis cantik bersandar di suatu jendela ruang kelas dengan kedua siku tampak menopang tubuhnya. Mereka saling menatap dan tersenyum selama beberapa saat. Siswa tersebut heran dengan kehadiran gadis cantik itu karena gadis itu berada di sekolah khusus lelaki. Sebelum siswa tersebut berpikir lebih jauh, gadis tersebut melompat dari jendela dan tampak bahwa bagian bawah tubuhnya tidak ada. Siswa tersebut tercengang melihatnya dan sebelum ia berhasil kabur, gadis itu memotong tubuhnya menjadi dua bagian.

Leave a Reply

Subscribe to Posts | Subscribe to Comments

Yahoo News: Top Stories

Distributor Batik

Detail Kontak

Detail Kontak

Popular Post

- Copyright © 2013 PENGUSAHA BISNIS GLOBAL -Metrominimalist- Powered by Blogger - Designed by Johanes Djogan | Distributed by Rocking Templates -